5 Oktober 2026
Digital Risk Protection: Cara Melindungi Aset Digital dari Ancaman Siber
Tips dan TrikDi era digital saat ini, keamanan siber sering kali berfokus pada apa yang terjadi di dalam sistem perusahaan. Firewall dipasang, endpoint diamankan, aplikasi diuji, dan akses pengguna dikontrol. Namun, bagaimana dengan apa yang terjadi di luar organisasi?
Bisa saja perusahaan tidak menyadari bahwa ada: domain yang menyerupai nama perusahaan, akun media sosial palsu, website phishing yang mengatasnamakan brand, credential karyawan yang bocor, informasi internal yang beredar di forum tertentu, atau aset digital perusahaan yang terekspos ke internet. Risiko-risiko tersebut berada di luar perimeter internal perusahaan, tetapi tetap dapat digunakan untuk menyerang organisasi. Di sinilah Digital Risk Protection (DRP) berperan.
Google Cloud mendefinisikan Digital Risk Protection sebagai kumpulan produk dan layanan untuk melindungi aset serta data penting dari ancaman eksternal, termasuk dengan memberikan visibilitas terhadap open, deep, dan dark web serta konteks mengenai threat actor dan teknik yang mereka gunakan.
Dengan kata lain:
DRP membantu perusahaan melihat risiko yang mungkin tidak terlihat dari dalam sistem.
Digital Risk Protection adalah pendekatan keamanan yang digunakan untuk mengidentifikasi, memantau, dan membantu merespons risiko terhadap aset digital perusahaan yang berada di luar lingkungan internal organisasi.
DRP dapat mencakup pemantauan terhadap:
Tujuannya bukan sekadar mengumpulkan informasi. DRP membantu perusahaan mengetahui:
Apa yang terekspos? → Apa risikonya? → Seberapa penting? → Apa yang perlu dilakukan?
Jejak digital perusahaan saat ini semakin luas. Website, aplikasi, cloud infrastructure, akun media sosial, domain, layanan pihak ketiga, hingga aktivitas karyawan semuanya dapat menjadi bagian dari digital footprint.
IBM menjelaskan bahwa jejak digital organisasi terus berkembang dan semakin terdistribusi, antara lain karena penggunaan cloud dan pola kerja jarak jauh. Setiap aplikasi, perangkat, dan pengguna yang terhubung ke internet dapat menjadi target penyerang.
Artinya, perusahaan tidak hanya perlu mengetahui:
“Apa yang kita lindungi?”
Tetapi juga:
“Apa yang bisa dilihat dan dimanfaatkan oleh pihak luar?”
Dalam 2026 Data Breach Investigations Report, Verizon melaporkan bahwa eksploitasi vulnerability menjadi titik masuk utama dalam breach untuk pertama kalinya dalam 19 tahun laporan tersebut, mencapai 31% dari breach yang dianalisis. Verizon juga mencatat keterlibatan pihak ketiga dalam breach meningkat hingga 48%, naik 60% dibandingkan periode sebelumnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa risiko tidak selalu berasal dari serangan langsung ke sistem utama perusahaan. Aset yang terekspos, vulnerability, pihak ketiga, credential, dan berbagai komponen yang terhubung ke organisasi dapat menjadi bagian dari jalur serangan. Karena itu, visibility terhadap external attack surface semakin penting.
1. Brand Impersonation
Penyerang dapat membuat website atau akun yang menyerupai perusahaan.
Contohnya:
Website resmi:
perusahaananda.com
Domain palsu:
perusahaananda-login.com
Secara visual, website tersebut dapat dibuat menyerupai website asli dan digunakan untuk melakukan phishing. Risikonya tidak hanya terhadap perusahaan, tetapi juga pelanggan dan karyawan. Platform DRP dapat membantu menemukan domain atau aset yang memiliki indikasi penyalahgunaan brand. Palo Alto Networks, misalnya, menjelaskan bahwa brand-risk domains dapat digunakan untuk menipu pelanggan, partner, maupun karyawan melalui phishing, malware, social engineering, atau pencurian data.
2. Leaked Credentials
Username dan password yang bocor dapat menjadi pintu masuk bagi penyerang.
Credential dapat diperoleh melalui:
Microsoft menjelaskan bahwa credential yang bocor dapat ditemukan dari berbagai sumber, termasuk forum dark web, breach repositories, paste sites, serta sumber lain yang digunakan dalam threat intelligence. Hal ini menjadi semakin penting karena credential yang valid dapat memberikan akses langsung ke sistem. Dalam 2025 DBIR, Verizon mencatat stolen credentials digunakan sebagai initial access vector pada 22% breach yang dianalisis.
3. Phishing dan Fake Website
Tidak semua phishing datang melalui email.
Pelaku dapat membuat:
Tujuannya dapat berupa pencurian:
Username → Password → OTP → Data Pribadi → Data Finansial
DRP membantu organisasi menemukan indikasi aktivitas tersebut dari sisi eksternal sehingga perusahaan dapat mengambil tindakan lebih cepat.
4. Dark Web Exposure
Dark web sering dikaitkan dengan aktivitas ilegal, tetapi bagi tim keamanan, pemantauan dark web dapat menjadi sumber informasi mengenai risiko organisasi.
Misalnya:
“Apakah ada credential perusahaan yang diperjualbelikan?”
“Apakah ada data perusahaan yang bocor?”
“Apakah ada pihak yang membicarakan atau menawarkan akses ke sistem perusahaan?”
IBM menjelaskan bahwa pemantauan dark web dapat digunakan sebagai semacam early warning system, memberikan indikasi risiko sebelum dampaknya berkembang menjadi insiden yang lebih besar.
5. External Attack Surface
Perusahaan mungkin memiliki lebih banyak aset digital daripada yang diketahui oleh tim IT.
Contohnya:
Masalahnya:
Aset yang tidak diketahui biasanya lebih sulit diamankan.
Karena itu, salah satu fungsi penting DRP adalah membantu organisasi mendapatkan visibilitas terhadap external attack surface.
Secara sederhana, DRP dapat digambarkan sebagai siklus:
1. Discover
Menemukan aset digital yang berkaitan dengan perusahaan.
2. Monitor
Memantau perubahan dan aktivitas mencurigakan di lingkungan eksternal.
3. Detect
Mengidentifikasi indikasi risiko seperti : domain palsu, credential leak, brand impersonation, phishing, dan data exposure.
4. Prioritize
Menentukan risiko mana yang paling membutuhkan perhatian.
5. Respond
Mengambil tindakan seperti:
DRP bukan pengganti firewall, endpoint protection, SIEM, atau security testing. Perbedaannya lebih pada sudut pandang yang dilindungi.
PendekatanFokusFirewallMengontrol traffic jaringanEndpoint SecurityMelindungi perangkatApplication SecurityMengamankan aplikasiCloud SecurityMelindungi cloud environmentSIEMMenganalisis event dan logVulnerability ManagementMengidentifikasi vulnerabilityDigital Risk ProtectionMemantau risiko digital dari sisi eksternal
Dengan demikian, DRP dapat menjadi bagian dari pendekatan keamanan yang lebih luas.
1. Mengetahui Risiko Sebelum Menjadi Insiden
DRP membantu perusahaan menemukan indikasi risiko lebih awal. Misalnya, credential perusahaan ditemukan bocor sebelum credential tersebut digunakan untuk mengambil alih akun.
2. Melindungi Reputasi Brand
Website atau akun palsu dapat merugikan kepercayaan pelanggan. Dengan monitoring brand secara eksternal, perusahaan dapat lebih cepat mengetahui adanya impersonation.
3. Mengurangi Risiko Credential Abuse
Credential yang terekspos dapat segera ditindaklanjuti dengan:
4. Memperluas Visibility
Tim keamanan tidak hanya melihat apa yang terjadi di dalam network. Mereka juga mendapatkan perspektif:
“Apa yang sedang terjadi terhadap perusahaan di internet?”
5. Membantu Prioritas Keamanan
Tidak semua temuan memiliki tingkat risiko yang sama. DRP dapat membantu tim memprioritaskan temuan berdasarkan:
Asset → Threat → Exposure → Risk → Action
Sehingga tim tidak perlu memperlakukan semua alert dengan tingkat urgensi yang sama.
Implementasi DRP sebaiknya tidak hanya dimulai dari memilih tools. Ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan.
1. Identifikasi Aset Digital
Buat daftar aset yang ingin dipantau:
2. Tentukan Risiko Prioritas
Tidak semua risiko memiliki dampak yang sama. Prioritaskan misalnya:
3. Integrasikan Threat Intelligence
Informasi dari open web, deep web, dark web, dan sumber threat intelligence dapat digunakan untuk memperkaya konteks risiko. Tujuannya bukan sekadar mendapatkan banyak data, tetapi mendapatkan informasi yang dapat ditindaklanjuti.
4. Buat Proses Response
Setiap alert harus memiliki tindakan yang jelas. Misalnya:
5. Lakukan Monitoring Berkelanjutan
Digital risk berubah setiap hari. Domain baru dapat muncul, credential dapat bocor, website phishing dapat dibuat, dan aset lama yang sebelumnya tidak aktif dapat kembali digunakan sebagai celah serangan. Karena itu:
Digital Risk Protection sebaiknya dipandang sebagai proses continuous monitoring, bukan pemeriksaan satu kali.
Meskipun bermanfaat, implementasi DRP juga memiliki tantangan.
Digital Risk Protection sebaiknya tidak berdiri sendiri. Ia dapat menjadi bagian dari ekosistem cybersecurity bersama:
Jika digambarkan:
Application Security melindungi aplikasi.
Cloud Security melindungi lingkungan cloud.
Identity Security melindungi akses dan identitas.
Digital Risk Protection membantu melihat risiko dari luar organisasi.
Pendekatan tersebut membuat keamanan menjadi lebih menyeluruh.
Kadang, ancaman pertama justru muncul dari sesuatu yang terlihat sederhana: domain palsu, credential yang bocor, akun impersonation, aset yang terlupakan, atau informasi perusahaan yang beredar di internet.
Digital Risk Protection membantu perusahaan mendapatkan visibility terhadap risiko eksternal dan memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan lebih cepat. Di tengah semakin luasnya digital footprint perusahaan, keamanan tidak cukup hanya dengan bertanya:
“Apakah sistem kita aman?”
Pertanyaan yang juga perlu dijawab adalah:
“Apa yang dapat dilihat, ditemukan, dan dimanfaatkan oleh pihak luar terhadap bisnis kita?”
DRP membantu perusahaan menemukan jawabannya sebelum risiko berkembang menjadi insiden.
Portofolio Terbaru
Artikel Terbaru